Selama ini, telur sudah menjadi makanan sehari-hari manusia. Tingginya
konsumsi telur itu menghasilkan limbah berupa kulit atau cangkang yang belum
banyak dimanfaatkan orang.
Melihat besarnya limbah cangkang telur itu, saya tertarik untuk memanfaatkannya. dan kebetulan, saya sedikit bisa membuat kaligrafi yang yaah.. lumayan lah untuk seorang pemula seperti saya......
Melihat besarnya limbah cangkang telur itu, saya tertarik untuk memanfaatkannya. dan kebetulan, saya sedikit bisa membuat kaligrafi yang yaah.. lumayan lah untuk seorang pemula seperti saya......
Banyak faktor yang
mempengaruhi keindahan seni kaligrafi. Bukan sekedar dari bentuk huruf
hurufnya, keindahan kaligrafi juga ditentukan dari komposisi warna dan bentuk
ornament yang mengelilinginya.
Kaligrafi merupakan
kata serapan dari bahasa Yunani yang berarti “menulis indah”. Di Indonesia,
seni tulis ini sudah cukup lama ada dan sering dikaitkan dengan religi. Sejarah
mencatat bahwa kaligrafi merupakan media yang banyak dipakai dalam
mengembangkan kebudayaan arab dan seni Islam sejak abad ke-14.
Sebagai seni tulis, ada
beberapa gaya penulisan dalam kaligrafi Islam. Menurut Kurnia Agung Robiansyah
(25)- seniman kaligrafi dari NOQTAH Islamic Calligraphy- setidaknya ada 7 gaya
penulisan bahasa arab di dalam seni kaligrafi, yaitu Tsuluts, Naskhi, Diwani,
Diwani Jaly, Farisi, Riq’a dan Kufi
Dengan menggunakan cangkang telur, saya membuat beragam lukisan kaligrafi. Selain kaligrafi, saya juga memproduksi lukisan wajah tokoh-tokoh tertentu.Saya juga menerima pesanan.
Dari hasil kerajinan berbahan cangkang telur ini, ia mengantongi omzet minimal Rp 20 juta per bulan. Harga lukisan kaligrafinya bervariasi, mulai Rp 500.000-Rp 600.000 per buah. Dalam sebulan ia bisa membuat empat lukisan kaligrafi.
Sementara banderol lukisan wajah Rp 5 juta-Rp 45 juta. Ia mengaku, pernah membuat lukisan Soeharto dan Siti Hardiyanti Rukmana. Kedua lukisan itu telah diboyong ke Cendana dengan harga Rp 45 juta per buah. saya juga pernah membuat lukisan Prabowo dan dibeli oleh seorang kolektor dengan harga Rp 15 juta.
Ide usaha ini datang setelah Cahyudi melihat banyak limbah kulit telur yang terbuang sia-sia di lingkungan sekitarnya. Kebetulan, ada salah seorang tetangganya menekuni usaha pembuatan roti yang banyak menggunakan telur ayam.
Belum lagi banyak tukang nasi goreng dan martabak yang mangkal tak jauh dari rumahnya. "Saya perhatikan limbahnya terbuang begitu saja," ujar Cahyudi.
Dari situlah ia terdorong untuk memanfaatkannya. Awal menekuni usaha pembuatan kaligrafi berbahan cangkang telur itu tidak langsung jadi. Ia perlu mencoba berbagai metode sehingga hasilnya bisa pas.
Diakuinya, membuat lukisan dari cangkang telur tidak mudah. Butuh jiwa seni dan kesabaran tinggi. "Prosesnya panjang," katanya. Tahap awal cangkang dibersihkan satu per satu.
Setelah itu dijemur sampai kering. Tahap berikutnya adalah memilah warna. Setelah seluruh telur terpisahkan berdasarkan warna, baru dibuat latar gambar dan lukisan di tripleks.
Tripleks yang berfungsi sebagai background ini kemudian dicat. Namun, hanya bagian background yang boleh dicat, sementara seluruh bagian lukisan menggunakan kulit telur.
Saat ini, hasil karya saya masih dipasarkan di sekitar Kota Kediri. Kaligrafi buatan saya dijual mulai Rp 200.000-Rp 400.000 per buah.
Dalam sebulan saya mampu membuat empat kaligrafi dari cangkang telur.
Berikut ini beberapa contoh kaligrafi yang ada di Galeri Art saya:
Harga antara Rp 500.000- Rp 750.000,-
Harga antara Rp 150.000,- Rp 250.000,-
Harga antara Rp 150.000,- Rp 250.000,-
Harga antara Rp 500.000- Rp 750.000,-
Harga antara Rp 150.000,- Rp 250.000,-
Harga antara Rp 150.000,- Rp 250.000,-
Harga antara Rp 150.000,- Rp 300.000,-


Tidak ada komentar:
Posting Komentar